Jumat, 01 Juni 2012

SKB 5 Menteri terhadap Rekstrukturusasi Guru oleh Dr. Murnaria Manalu


Pengaruh SK 5  Menteri terhadap Restrukturisasi Guru
OLEH : Dr. MURNARIA MANALU
GURU SMP NEGERI 216 JAKARTA
Dimuat di Harian Suara Pendidikan Jakarta 2012

           Surat Keputusan  Bersama 5 Menteri  yaitu Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama,  yang dikeluarkan 3 Oktober 2011. SKB ini mengatur soal penempatan  guru  sebagai wewenang pusat. Penempatan dan penugasan guru PNS ini dilakukan  guna mengatasi permasalahan pemerataan guru di sekolah-sekolah. SKB ini bertujuan untuk memberikan mutu pelayanan pendidikan yang merata di seluruh wilayah NKRI, baik ketersediaan, keterjangkauan, kualitas dan relevansi, kesetaraan, serta kepastian/keterjaminan memperoleh layanan pendidikan.

               SKB ini melibatkan 5 kementerian, yaitu Kemendikbud, Kemenag, Kemendagri, Kemenkeu dan Kemenpanrb,  yang ditandatangani oleh 5 Menteri, ini  terdiri dari 9 bab, yang intinya penataan dan pemerataan guru PNS  yang merupakan tanggung jawab bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Desentralisasi ini tentu membutuhkan penataan dan tahapan mulai dari  perencanaan, pengangkatan, dan penempatan serta pembinaan terhadap guru. Pemerintah pusat lebih berperan, dan sebagai  kebijakan nasional akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Peraturan bersama itu sebenarnya bagus karena untuk mengurangi dampak negatif dari efek negatif berlakunya otonomi daerah yaitu  menghilangkan terjadinya raja-raja kecil di daerah.

               Namun  tetap saja dilapangan kewenangan pemerataan guru ini, tidak berada pada pemerintah pusat. Karena mau tidak mau provinsilah  yang memiliki data dan menetapkan penempatan  guru serta  distribusinya di wilayah  daerah (kab/kota). Provinsilah yang paling tahu kebutuhan riil guru berdasarkan kondisi jumlah siswa dan   rombelnya. Jadi akan muncul pertanyaan selanjutnya  apakah  kebijakan ini benar_benar  dapat  berfungsi efektif  mengatasi persoalan masalah kondisi riil  distribusi guru. Apakah  keberadaan dan kebutuhan tenaga pendidik di seluruh wilayah Indonesia sudah sesuai dengan kebutuhan siswa.  Apakah selama ini data tersebut belum ada? Bagaimanakah  proyeksi kebutuhan guru  untuk lima, atau dua puluh tahun mendatang? Apakah kebutuhan guru ini sudah diatur sesuai dengan proyeksi pertumbuhan penduduk yang ada di tiap wilayah provinsi Indonesia?   Apakah  SKB 5 menteri ini  benar-benar dapat diterapkan dengan konsekwen,  dilakukan dengan fair serta  bebas KKN?  Bila tidak  hal ini SKB ini  hanya akan menjadi  sebuah dokumen, tanpa memberikan efek positif terhadap perbaikan persoalan guru terutama persoalan distribusinya.

              Pertanyaan  diatas muncul akibat adanya SKB 5 Menteri ini. Akan   efektifkah SKB ini untuk menyelesaikan persoalan distribusi guru dan mutu pendidikan yang banyak masalah. Terlebih segudang pertanyaan tentu akan muncul terutama dikalangan para pendidik, bahkan pertanyaan ini terkadang menimbulkan keresahan yang tentu akan berdampak kepada ketenangan mereka dalam  mengajar ataupun melaksanakan  tugas sehari-harinya.

               Untuk mengatasi keresahan  itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan dan  membuat  petunjuk teknis pelaksanaan  melalui  Peraturan  Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas 30 Tahun 2011).  Permen 30 tahun 2011 ini dibuat  untuk menggantikan Permendiknas 39 tahun 2009,  dimana salah satu isinya di  pasal 5 yaitu tentang pemenuhan beban mengajar guru minimal 24 jam tatap muka perminggu. Pada petunjuk teknis pelaksana peraturan bersama SKB Lima menteri itu bertujuan baik, pemerataan pegawai khususnya guru, dengan  menilai kebutuhan tenaga guru dilihat dari ratio siswa dan rombongan belajarnya.  Untuk mengatur beban kerja guru dan pengawas  sebelumnya,  diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang tugas Guru.  Kemudian  pemerintah  kembali  meluncurkan regulasi melalui   Permendiknas No.39 Tahun 2009  tentang   Pemenuhan Beban Kerja  Guru  dan Pengawas    Satuan Pendidikan, ini terdiri dari 8 pasal  yang didalamnya antara lain  memuat berbagai ketentuan tentang beban kerja guru, guru BK/konselor, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru pembimbing khusus  dan pengawas sekolah. Dalam  ketentuan bagi guru yang tidak dapat memenuhi  beban kerja, selain itu, karena saat ini  pengawas sekolah pun masih dipandang sebagai  guru,  maka dalam pasal  4 diatur pula tentang beban kerja pengawas sekolah yakni  melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan pengawasan.

               Pengaruh berlakunya  SKB 5 Menteri ini maka Kemdikbud dan Kementerian Agama  melalui kepala Dinas Pendidikan Provinsi/Kab’Kota dan Kanwil Depag dan Kandepag perlu   mendata kondisi riil para guru dilapangan sesuai dengan  keahliannya. Melalui pendataan ini akan dibuatlah  perencanaan  kebutuhan  redistribusi guru, baik pada tingkat satuan pendidikan di tingkat sekolah,  kabupaten/kota, hingga ke provinsi yang  berdasarkan kebutuhan rombongan belajar siswa yang nyata sesuai tingkat satuan pendidikan. Pendataan ini dilakukan   paling lama  2 tahun setelah diberlakukannya peraturan ini (pasal 5 ayat 2). Permendiknas 30 Tahun 2011 (Ka biro Hukum dan Organisasi : 2011; 2) 
             Pengaruh setelah diterbitkan permendiknas 30 tahun 2011 tentu menimbulkan  dampak positif maupun negatif. Untuk mengantisipasi dampak tersebut diantisipasi pemerintah pada   pasal 5 tertuang, di ayat 1 bahwa: dalam jangka waktu sampai dengan 31  Desember 2011, (Salinan No: 67886/A 5.1/HK/2011).  dimana   guru dalam jabatan yang bertugas selain di satuan pendidikan, dapat memenuhi beban mengajar 24 jam tatap muka dengan cara:
a. Mengajar mata pelajaran yang paling sesuai dengan rumpun mata pelajaran yang diampunya, dan atau mengajar yang tidak ada guru mata pelajarannya.
b.  Menjadi tutor Paket A, Paket B, Paket C, Paket C Kejuruan atau Pendidikan keaksaraan.
c. Menjadi guru bina  atau guru pamong pada sekolah terbuka.
d. Menjadi guru inti/instruktur/tutor pada kegiatan kelompok kerja guru/ musyawarah guru mata pelajaran (KKG/MGMP).
e. membina kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk kegiatan praja muda karana (Pramuka), Olimpiade/lomba Kompetensi siswa, kerohanian, Olah raga, kesenian, karya ilmiah remaja (KIR), Kerohanian, Paskibra, Pencinta Alam, PMR, Jurnalistik/fotografi, UKS dan sebagainya.
f. membina pengembangan diri peserta didik dalam bentuk kegiatan pelayanan sesuai minat, bakat, kemampuan, sikap dan perilaku siswa dalam belajar, kehidupan pribadi, sosial dan pemgembanan karir diri.
g. melakukan pembelajaran bertim (team teaching) dan atau;
h melakukan pembelajaran perbaikan (remedial teaching).
           Berdasarkan pasal 5 ini jelas para guru tidak perlu resah akibat kurangnya jumlah
jam mengajar, mereka dapat mengantisipasinya dengan melakukan aktivitas rutin sesuai yang tertera pada butur a s/d h.
            Untuk itu pemerintah provinsi masih terus  melakukan pendataan guru-guru di kabupaten/kota untuk mengetahui jumlah guru di kab/kota yang dilakukan  oleh  Bidang Peningkatan Mutu Pendidik Tenaga Kependidikan (PMPTK). Untuk itu waktu yang diberikan untuk  Kabupaten/Kota, cukup untuk  waktu 2 tahun sekaligus  menata kelebihan guru dan kekurangannya. Mulai 2012 guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) akan mulai ditata dan diratakan sesuai kebutuhan kabupaten/kota.
           Tentu pendataan, ini membutuhkan  waktu lebih lama, guna   mengetahui daerah mana saja yang over guru dan yang kekurangan guru mengingat kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam. Pendataan ini perlu untuk mengantisipasi kebutuhan pendidikan berdasarkan  ratio murid dan guru dan  kebutuhan kurikulum. Pendataan dari tiap provinsi tersebut tentu perlu dilaporkan ke pusat. Sehingga, pemerintah pusat dapat membuat pemetaaan kebutuhan perencanaan dan pengadaan  guru yang benar-benar akurat. 
           Berarti , kedepannya dengan adanya  perubahan kewenangan penempatan guru ini pemerintah dapat  mengatur penempatan guru, khususnya PNS akan merata.  Karena sesuai tugas dan kewajibannya, guru Pegawai Negeri Sipil   harus siap ditempatkan dimana saja di seluruh wilayah Indonesia. Dan tidak ada lagi sekolah yang mengalami kelebihan ataupun kekurangan guru lagi tapi benar-benar sesuai kebutuhan di tingkat satuan pendidikan.  Dan tidak akan ada lagi guru-guru yang sudah pensiun dan uzur namun  masih berbakti karena ketiadaan guru disekolah, sementara para sarjana pendidikan yang masih muda dan energik cukup banyak, dan mereka   sudah mengantri sekian tahun akibat ketiadaan tempat mengajar, ataupun dampak dari adanya moratorium.
              Pengelolaan guru yang selama ini dikelola oleh pemerintah daerah (ingat otonomi  daerah) akan kembali dikelola oleh pemerintah pusat. Kemendikbud sebaiknya  mempertimbangkan betul apakah wacana keputusan ini  sudah tepat. Apakah SKB 5 menteri yang dibuat oleh  pemerintah sudah  melihat persoalan keberadaan guru di Indonesia   secara jernih. Seharusnya dampak dari  kebijakan ini pemerintah pusat maupun daerah  akan segera  membuat peta kebutuhan  guru dan distribusi guru  sesuai dengan  riil  di tiap wilayah Indonesia.  Pemetaan guru ini akan sesuai dengan  ratio keberadaaan penduduk dan pertumbuhan siswa/guru  di wilayahnya.  Bila tidak nasib  SKB 5 menteri ini akan sama nasibnya dengan SKB yang ada sebelumnya.
              Adanya data yang valid tentu membuat  pemerintah pusat dapat   mengetahui  sebaran guru yang tepat dan akurat di seluruh wilayah Indonesia.  Mendata  jumlah jam mengajar guru yang benar-benar  real, berdasarkan   keahlian dan kompetensi  tugas yang diembannya. Terlebih data guru tentang,  usia, golongan, dan keahlian professi, tingkat pendidikan dan jurusannya, berdasarkan  kebutuhan siswa dan rombongan belajarnya. Karena kenyataan dilapangan ada guru yang mengajar sampai 40 jam per minggu, sementara yang lain hanya 12 jam pelajaran per minggu. Tentu hal ini membutuhkan pembenahan secepatnya.  Restrukturisasi guru ini perlu segera dilakukan apakah  rewardnya bagi guru yang mempunyai jam pelajaran lebih, dan apakah  akibatnya bagi guru yang mempunyai jam mengajar  kurang dari 24 jam ini? Tentu perlu dicarikan solusi yang win win solution. sehingga distribusi keberadaan  guru pada tingkat satuan pendidikan  direalisasikan tanpa menimbulkan keresahan.
              Sebaiknya pemerintah dalam menangani  tata kelola guru, memperbaikinya mulai  dari proses rekrutmen, pembinaan, peningkatan mutu, penyebaran, pengelolaan,  persoalan kesejahteraan, dengan  berbagai alternatif solusi dari guru PNS. Opsi lain dari SKB 5 menteri ini, bisa saja guru tetap dikelola pemerintah daerah namun didukung kebijakan yang tepat guna mengatasi berbagai persoalan guru tersebut.  Karena selama masih pada undang-undang otonomi daerah masih merupakan kebijakan pemerintah dan belum dicabut. Tentu undang-undang ini  sah dan jelas menyebutkan guru dikelola oleh daerah, sehingga  SKB 5 menteri ini bisa saja  tidak  berjalan dengan baik.
              Dinas Pendidikan di tingkat wilayah Kecamatan, Kabupaten, Provinsi hingga Pusat perlu berkoordinasi  guna melakukan penempatan guru  yang benar-benar  terbaik, sebelum SK tersebut diberlakukan. Tiap  sekolah perlu  memberikan data yang sebenar-benarnya, sehingga  setiap insan pendidikan  dapat  mempunyai jiwa yang bersih, penuh semangat dan mengedepankan kerja keras.  Semua insan pendidikan hendaknya senantiasa  berperan aktif melaksanakan kegiatan belajar-mengajar sehingga terciptanya pendidikan berkualitas.
             Oleh sebab itu diperlukan peran aktif semua pihak dalam rangka  mengantisipasi kebijakan tersebut,  terutama kepada Kepala Sekolah, Guru dan Pengawas. Belum lagi kenyataan dilapangan akibat keterbatasan gaji guru, terpaksa banyak para  guru meminjam ke koperasi maupun  ke Bank yang  melebihi ketentuan.  guna memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. SKB 5 Menteri ini berdampak pada seluruh warga Dinas Pendidikan agar mereka  lebih professional dalam menyikapi ketentuan yang dilaksanakan secara Nasional karena  bersifat mengikat.  Melalui sosialisasi  tentu dapat menghilangkan keresahan dan harapan para guru,  Kepala Sekolah, Guru dan Pengawas Sekolah untuk selalu  menjalankan tupoksi masing-masing dengan peningkatan mutu pendidikan dimanapun mereka bertugas.
             Pengaruh dari kebijakan ini tentu akan menimbulkan   mutasi diantara para guru yang ada guna pemerataan guru hingga ke dusun-dusun. Anggaran untuk pemerataan guru tahun juga sudah disiapkan pemerintah.  Jumlah guru yang dimutasikan tentu  harus disesuaikan  dengan keberadaan  anggaran yang dapat diemban pemerintah daerah yang bersangkutan. Sehingga akibat keterbatasan ini mutasi tentu dilakukan secara bertahap.  Kebutuhan guru di tiap sekolah diberikan sesuai ratio jumlah guru, siswa, rombongan belajar, kesediaan sarana dan prasarana. 
              Upaya perekrutan guru baru sesuai kebutuhan, akan menghindari banyaknya guru yang mistchmach dilapangan.  Dan  bagaimana  tindakan yang diambil pemerintah apabila guru tidak mau dipindahkan?  Apakah guru yang terkait bisa dikenakan sanksi tegas hingga pemberhentian secara tidak hormat. Hal ini tentu memerlukan pertimbangan khusus, tidak asal ambil tindakan brutal atau arogan atau menggunakan sistem koneksi dalam penempatannya.   Hal ini  tentu harus dikaji benar-benar. Apakah  yang harus dilakukan pemerintah  daerah untuk menghadapi kekurangan guru ini.
               Pemerintah pusat juga perlu mengantisipasi kebijakan daerah yang selama ini ada dimana untuk mengisi kekosongan dan kekurangan guru di sekolah, diantaranya  melakukan usaha menutup kekurangan guru, dengan merekrut guru kontrak dari putra daerah yang berdomisili di situ. Pihak kepala sekolah yang berlebih gurunya juga mencantumkan nama dan alamat lengkap guru beserta statusnya. Mutasi  guru juga tidak asal, artinya perlu melihat  latar belakang keluarganya, mempertimbangkan jarak lokasi kerja  dengan rumah tinggal,  mengingat jam belajar dimulai pada pagi hari, sehingga hasilnya  akan optimal. Dan sebaiknya mutasi  guru ini  tidak menimbulkan masalah baru dilapangan.
            Badan Kepegawaian Daerah (BKD), perlu menyusun daftar ratio guru dengan kebutuhan rombongan belajar yang diperoleh dari tiap sekolah  dan tidak ada  manipulasi data seperti  yang selama ini  sering terjadi. Hasil pendataan   dikordinasikan dari tiap kecamatan dan kotamadya dan pada akhirnya disampaikan ke dinas pendidikan provinsi hingga ke pusat. Dengan adanya data  base guru yang benar-benar  akurat, akan dapat  dipercaya, untuk  menjadi dasar perencanaan guna  pengangkatan guru baru, baik untuk kebutuhan  yang sekarang maupun  yang akan datang (dengan menerapkan proyeksi kebutuhan guru berdasarkan kebutuhan siswa dan pertumbuhan penduduk). Dengan data ini pemerintah pusat maupun daerah  benar-benar dapat merencanakan kebutuhan guru sesuai dengan   kebutuhan, dan bukan asal-asalan. Semoga.
             

Kamis, 31 Mei 2012

Peran Atlas Sebagai Penunjang Guru Geografi Dr. Murnaria Manalu Forum Teknis Atlas Bakosurtanal


Peran Atlas Sebagai Penunjang Guru Geografi
Dr. Murnaria Manalu (MGMP GEOGRAFI DKI)
Disajikan di Hotel Royal Bogor Forum Teknis 2011 Bakosurtanal
Guru SMP Negeri 216 Jakarta Pusat

              Pemanfaatan atlas  sebagai  media pembelajaran Geografi  di dalam kelas  mempunyai  peranan yang sangat  penting  guna membantu siswa  memahami konsep ruang (spatial) dengan tepat  serta dapat  meningkatkan  hasil belajar siswa.  Para guru  Geografi perlu merencanakan dan memilih media  yang  sesuai  dengan materi  ajar  yang akan disampaikan diantaranyanya, baik  dengan  menggunakan peta dinding,  atlas (dalam bentuk buku)  maupun  dalam  bentuk dijital.
           Akhir- akhir ini terjadi pergeseran penggunaan peta atau atlas  dari yang bentuk fisik  (Peta dinding, atau atlas  buku  menjadi atlas dijital.  Pemanfaatan atlas  dijital  ini akan semakin diminati, dan  akan semakin  banyak digunakan  para  guru Geografi karena lebih menarik, interaktif dan mempunyai ragam kelebihan dibandingkan atlas buku. Peta dijital  ini banyak digunakan guru Geografi  terutama dikota-kota besar atau sekolah-sekolah  yang sudah mempunyai fasilitas internet, sehingga akses penggunaan atlas dijital ini  sudah  menjadi sangat dominan dan benar-benar dibutuhkan mereka.   
          Dampaknya  para  guru  Geografi yang sudah mulai menggunakan  atlas dijital ini,   juga  perlu memilih  dan memilah atlas dijital baik  yang sesuai dengan materi ajar yang disampaikannya.  Guru dapat  meng uplode  program di leptopnya melalui CD National Geographi, ataupun bentuk lain  seperti atlas yang sudah discanningnya  agar sesuai topik penyajian materi yang telah dipilihnya.  Selain itu guru geografi juga   dapat menggunakan peta dijital didalam pembelajaran,  sesuai dengan fasilitas yang ada diinternet, misalnya: menggunakan google maps, peta Indonesia, peta jalan, Satélite Indonesia, Google Earth,  Yahoo Maps, dll sampai GPS. 
             Mau tidak mau sebelum menggunakan  peta dijital ini di dalam kelas,  para guru Geografi  harus berlatih atau belajar dengan mencoba membuka program dan mengoperasionalkannya agar benar sesuai dengan materi dan penggunaan waktunya sesuai dengan  jam mengajarnya dan saat digunakan tidak mengalami hambatan. Dibutuhkan pula kreativitas dan saling sharing diantara sesama guru Geografi agar dapat memanfaatkan dan  bagaimana  mengoperasionalkan  media  interaktif peta dijital sehingga dapat dengan mudah digunakan pada saat pembelajaran, sehingga penggunaan peta dijital  hasilnya betul-betul   optimal, dan  pada saat proses pembelajaran berlangsung tidak terdapat gangguan teknis maupun non teknis.
           Penggunaan media atlas dijital ini  akan sangat membantu para guru, terutama para Guru Geografi  guna  memudahkan  penyampaian materi-materi Geografi.  Namun atlas dijital yang ada  pada saat ini belum seluruhnya dapat memenuhi keinginan guru ataupun konsep materi esencial yang terdapat di kurikulum SMP ataupun SMA. Guru Geografi membutuhkan informasi terbaru mengenai cara dan penggunaan atlas dijital yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah ataupun swasta ataupun pendidikan tinggi.
             Atlas  dijital  interaktif ini  yang digunakan guru pada saat pembelajaran akan dapat  meningkatkan motivasi guru dan  siswanya.  Karena  mau  tidak  mau  guru Geografi akan mengolah  dan mencari atlas mana yang cocok yang dapat digunakan  untuk membantu siswanya memahami materi pembelajaran dengan baik, dan sekaligus akan meningkatkan hasil belajar.
            Terlebih jika dilihat dari segi perkembangan profesi guru,  Guru pengajar Geografi  harus menyadari  tugas-tugasnya terkait erat dengan kemajuan  ilmu pengetahuan dan teknologi.  Guru  Geografi tidak lagi hanya sekedar  memberikan pengetahuan dengan menunjukan lokasi pada peta diding saja,  tetapi juga guru wajib memiliki keterampilan  dan pengetahuan yang sesuai dengan tuntutan jaman.  Sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), perkembangan masyarakat dan budaya, maka berkembang pula tugas, peranan dan fungsi guru  Geografi  yang menginginkan kemajuan anak didiknya.  
             Pada masa lalu, media pembelajaran  atlas buku  dianggap sebagai  alat peraga, atau alat bantu utama dalam mengajar Geografi ataupun  Ilmu Pengetahuan Sosial.  Dan disamping  atlas buku,   media pembelajaran yang banyak digunakan  Guru Geografi  sangatlah sederhana, misalnya penggunaan peta, globe, gambar-gambar, matriks, dll.  Kemudian dalam perkembangan berikutnya media pembelajaran  atlas dijital   menjadi media yang dominan digunakan di dalam pendidikan dan hal ini  tentu telah   mengalami perubahan dan inovasi yang harus diantisipasi para guru.   
             Menurut Adnyana (2008: 249):  tentang Komisi Teknologi Instruksional dalam laporannya yang monumental kepada Dewan Perwakilan Rakyat (Congress) AS mencatat dua cara dalam mendefinisikan media pendidikan sebagai berikut: yang pertama media yang lahir dari revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk keperluan instruksional bersama – sama guru, buku teks, papan tulis, dan ke dua media yang penggunaannya mencerminkan penekanannya pada mesin – mesin dan benda – benda seperti televisi, film, overhead projector, komputer atau media yang lain. Mengacu pada apa yang telah diuraikan di atas, maka kehadiran media pembelajaran mutlak diperlukan dalam dunia pendidikan.
            Arsyad  berpendapat (2010: 3) Kata “ media”  berasal dari bahasa Latin yaitu : “ medius” yang secara  artinya secara harafiah adalah: tengah, perantara, atau pengantar dari pesan dari pengirim ke penerima. Media secara garis besar merupakan usaha manusia untuk membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan. Media dapat digunakan untuk memecahkan masalah – masalah pembelajaran, terutama pada kegiatan penyampaian pesan (isi)  materi, agar mempermudah siswa memahami materi ajar yang disampaikan guru. Media yang digunakan hendaklah   sesuai dengan bidang studi, dan materi  yang akan disampaikan guru. Media merupakan salah satu sumber belajar yang memiliki peran yang sangat penting, media dapat berinteraksi dengan siswa dan media dapat membelajarkan siswa atau memudahkan siswa belajar. Namun media tidak dapat  mengambil alih  peran, tugas dan fungsi guru,ia hanya menunjang guru dalam pembelajaran.
           Sebagaimana media telah dijelaskan bahwa  media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa. Pengertian media sering diartikan dengan  peralatan. Media sesungguhnya adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi yang disajikan atau ditampilkan dengan mempergunakan peralatan. Peralatan atau perangkat keras (hardware) merupakan sarana untuk menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut.
             Menurut Bakosurtanal pada sinopsis (2011: 1)  Atlas, yang merupakan titik terluar (frontier) dari galaksi pengelolaan data dan informasi geospasial yang bersentuhan langsung dengan dunia luar (masyarakat), memiliki posisi yang sangat penting baik itu sebagai representasi dari kondisi pengelolaan data dan informasi geospasial maupun sebagai pintu masuk bagi dunia luar untuk lebih mendalami data dan informasi geospasial. Bisa dikatakan, salah satu ukuran dari baik atau buruknya sebuah proses pengelolaan data dan informasi geospasial dapat ditentukan dari kualitas atlas yang dihasilkan.
            Dengan demikian terjadi perubahan  paradigma baru di dunia luar (masyarakat) termasuk dikalangan guru Georgafi didalam menjalani tugas mengajar dan  aktifitas sehari-hari  dan  telah bergeser dari interaksi fisikal ke interaksi melalui media dijital memanfaatkan dunia maya (internet). Penggunaan  atlas  buku  telah  bergeser  menjadi   pengguna  atlas dijital,  apalagi   kondisi atlas buku yang ada saat ini  yang ada disekolah masih terbatasnya ketersediaanny,  buku atlas yang ada cetakannya sudah lama, karena keterbatasan dana sekolah untuk membelinya. Sehingga sangatlah tepat dan wajar bila para guru Geografi telah beralih menjadi pengguna atlas dijital, karena lebih interaktif, praktis, mudah diperoleh karena sekolahnya telah dilengkapi sarana internet.  
              Atlas dijital ini juga  harus mampu beradaptasi  terhadap kondisi ini yang berarti bentuk atlas juga harus bertransformasi dari analog/fisik (cetak) menjadi dijital berupa aplikasi berbasis jaringan internet (web). Untuk dapat bertransformasi dengan baik dan mulus dukungan dari pengelolaan data dan informasi geospasial, baik itu tematik maupun dasar, mutlak diperlukan. Pengelolaan ini harus mampu menyediakan kebutuhan data dan informasi geospasial dalam bentuk dijital yang terkoneksi dengan baik melalui jaringan internet dalam sebuah sistem referensi tunggal, yang sesuai dengan kebutuhan dunia pendidikan.  Dan sudah tentu diharapkan biaya atau  tarifnya lebih murah sehingga dapat diakses oleh para guru Geografi ataupun siswanya.
            Oleh sebab itu, proses pengelolaan harus dilakukan dengan berorientasi kepada basisdata geospasial dijital, sehingga semua data dan informasi hanya dibuat satu kali oleh wali data dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kebutuhan melalui proses pertukaran data (data sharing), salah satunya untuk atlas dijital. Atlas dijital yang lengkap informasinya, menarik lay outnya, dapat dioperasionalkan dengan mudah, serta membutuhkan perangkat software gratis, sehingga  mudah diakses oleh masyarakat luas.
             Melalui kegiatan forum teknis atlas 2011 ini, tentu banyak informasi terbaru mengenai atlas dijital  yang dapat  dimanfaatkan dan diakses dengan mudah oleh dunia pendidikan, termasuk pelajaran Geografi ataupun Ilmu Pengetahuan Sosial. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Bakosurtanal merupakan  sebagai salah satu upaya dari Bakosurtanal, selaku pengelola data dan informasi geospasial dasar dan koordinator pengelolaan data dan informasi geospasial tematik, untuk memperkenalkan kepada masyarakat  luas  mengenai posisi dan transformasi atlas yang sedang dan akan dilaksanakan, meliputi semua prosesnya mulai dari pencarian dan pengumpulan data (dari manual menuju ke pemanfaatan geoportal Ina-SDI), kartografi (dari manual ke dijital), hingga bentuk akhir (dari analog/cetak ke aplikasi dijital berbasis jaringan internet/web). Tentu kegiatan ini akan sangat bermanfaat dan bermakna bila dapat disebarluaskan kepada sesama guru khususnya Guru Geografi.
           Dari berbagai narasumber yang terdiri dari pakar, pelaku dan pengguna produk industri geospasial diundang untuk berbagi pengetahuan tentang atlas terkait dengan bidang keahlian masing-masing, kita para guru Geografi dapat menimba ilmu dari pakarnya yang akan kita manfaatkan untuk kemajuan anak didik kita dimana kita mengajar, termasuk menambah kompetensi para guru dalam hal ilmu peta (Kartografi) . Karena para pakar yang akan memberikan ilmu kepada para Guru Geografi adalah para ahli dibidangnya diantaranya  beberapa narasumber  dan diharapkan hadir adalah pakar kartografi yang juga pengurus asosiasi ICA (International Cartographic Association)  Prof. Ferjan Ormeling yang juga Profesor di Faktly of Geoscience University of Utrecht, The Netherlands dan Tjeerd Tichelaar yang membuat atlas untuk pendidikan serta Atlas Negeri Belanda yang terbaru, Budayawan Radhar Panca Dahana, Badan litbang Kompas/Grasindo, serta National Geographic Indonesia. Beberapa perwakilan dari dunia pendidikan juga diundang untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai atlas dan informasi geospasial dari sudut pandang pendidikan, seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, juga Komunitas pengajar mata pelajaran Geografi.
           Semoga melalui kegiatan Bakosurtanal ini para guru, khususnya Guru Geografi dapat memperoleh informasi dan pengetahuan tentang Atlas Dijital ini dengan sebaik-baiknya, dan kemudian kita tidak lupa membagikannya kepada sesama rekan guru yang tidak dapat mengikuti Forum Ilmiah Forum Teknis Atlas 2011 ini, dan yang paling terutama adalah  kita dapat memanfaatkan semua ilmu yang kita terima ini dan menerapkannya  pada saat kita memberikan pembelajaran Geografi pada anak didik dimana kita bertugas. Semoga.

Daftar Pustaka

Adnyana, Ketut Senang 2008, Strategi Pembelajaran, Jakarta: Ditjen Bimas Hindu.
Azhar Arsyad, 2010, Media Pembelajaran, Jakarta : PT  Raja Grafindo Persada
Munadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta: Gaung Persada
Muhammad Uzer Usman, 2004, Menjadi Guru Profesional,  Bandung; Penerbit  Remaja Rosdakarya, Cetakan ke 16.
Sinopsis, Forum Teknis Atlas Bakosurtanal 2011.

Biodata Pembicara :
Nama: Dr. Murnaria Manalu.
Tpt/Tgl lahir : Medan, 12-8- 1961
Nip: 196108121984032002/144729
Guru SMP Negeri 216 Jalan Salemba Raya No: 18 Jakarta Pusat dan dosen UKI
NIDN : 031208196102  ( PPS  Manajemen Pendidikan Universitas Kristen Indonesia)
Pangkat: Pembina Utama Madya /IV D
Handphone: 08129677561
Alamat : Jalan Bina Taruna II No: 28
              Kayu Mas Pulo Gadung Jakarta Timur

Sabtu, 11 Februari 2012

Guru pahlawan pendidikan


GURU PAHLAWAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
Dimuat di Harian Suara Pendidikan Jakarta

OLEH : Dr. MURNARIA MANALU
GURU SMP NEGERI 216 JAKARTA

Dua peristiwa bersejarah yang hampir berdekatan telah berlalu di Indonesia, yang pertama tanggal 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda, dan tanggal 10 November Hari Pahlawan. Ke dua moment penting ini, perhatian masyarakat sepertinya tidak semeriah perayaan hari Kemerdekaan RI. Bahkan di banyak sekolah hari penting bagi bangsa Indonesia ini tanpa upacara bendera resmi. Upacara untuk dua hari penting ini hanya dilakukan oleh para karyawan Pegawai Negeri Sipil dan kantor-kantor pemerintah yang telah melaksanakan upacara khusus pada tanggal tersebut, pada pagi hari. Padahal ada makna terdalam yang dapat dipupuk dari dua peristiwa ini, terlebih bagi dunia pendidikan, karena melalui peristiwa heroik ini yaitu dijadikan momentum untuk membangkitkan semangat untuk meningkatkan mutu bangsa Indonesia yang semakin rendah saja.
Hasil pengumuman Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia dari UNDP tahun 2011, hanya sebesar 0,617 Negara Indonesia menempati peringkat ke 124 dari 189 negara. Posisi Indonesia pada tahun 2010, berada pada urutan ke 108 dari 169 negara. IPM 2011 ini menggunakan indikator penilaian dari kemampuan daya beli masyarrakat ( in come perkapita yang dihitung dalam dollar Amerika Serikat hanya 3.716 $), tingginya tingkat harapan hidup 69,5 tahun (life expectancy at birth), angka harapan anak usia sekolah 13,2 tahun (expected year of schooling) serta rata-rata anak mengenyam bangku pendidikan hingga penduduk usia di atas 25 tahun hanya 5,8 tahun (means years of schooling), dan tingkat kesehatan, serta pertumbuhan ekonomi negara.
Mengapa posisi IPM Indonesia sejak tahun 1980 hingga tahun 2011 lebih rendah diantara sesama anggota Asia, dan negara Asean, Indonesia jauh di bawah Singapura (0,866), Brunei Darussalam (0,838), Malaysia (0,761), Thailand (0,682), dan Filipina (0,644)? Tentu hal ini memerlukan perhatian lebih dan perbaikan terus telah-menerus yang diusahakan oleh semua pihak baik pemerintah, terlebih para guru dan dosen yang merupakan ujung tombak peningkatan mutu bangsa, karena mereka adalah sebagai pelaksana program pendidikan.
Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan IPM Indonesia ini adalah dengan mempersiapkan dan mengimplementasikan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tahun 2011-2025 yang diprakarsai oleh Presiden Indonesia Bapak Dr. Susilo Bambang Yudhoyono pada bulan Mei 2011 yang berisi enam wilayah koridor ekonomi, penguatan konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi nasional dan pengembangan setiap koridor ekonomi yang terpadu (center of excelence economic).
Namun apakah langkah kongkrit yang dapat dilaksanakan oleh para pendidik di seluruh tanah air kita guna meningkatkan mutu anak bangsa. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) di Indonesia juga telah melaksanakan berbagai program diantaranya meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) pada semua jenjang pendidikan mulai pendidikan dasar dengan program wajib belajar sembilan tahun, di tingkat sekolah atas dan kejuruan (SMA/SMK) hingga perguruan tinggi berusaha meningkatkan kualitas anak bangsa. Serta mempersiapkan tenaga pengajar yang ahli dibidangnya secara merata di seluruh wilayah Indonesia dengan berbagai program kerja sama Pemerintah Daerah dengan Perguruan Tinggi guna memenuhi kebutuhan guru di daerah terpencil.
Para pelaksana pendidikan yang bermutu dan profesional sangat wajar kalau mereka disebut “ Pahlawan Peningkatan Mutu Pendidikan.” Karena melalui aktivitas para guru yang berkualitas dan profesional dibidangnya tercermin perilaku positif yang selalu mau berusaha dan bersedia memberikan pembelajaran bermakna di dalam kelas maupun di luar kelas. Saat mengajar guru yang disebut pahlawan ini akan dengan senang hati menggunakan beragam metode dan media yang dapat mempermudah para siswanya memahami materi ajar yang disampaikannya. Selalu meningkatkan motivasi belajar para siswanya agar mereka mau belajar dengan sungguh-sungguh. Bersedia mendidik siswanya dengan beragam latihan soal dan membimbingnya mengerjakan tugas-tugas guna meningkatkan pemahaman terhadap materi ajar yang sesuai dengan keahlian dan kompetensinya.
Agar guru yang disebut pahlawan peningkatan mutu pendidikan ini senantiasa tersedia, tentu dibutuhkan kesediaan pemerintah khususnya Kemdiknas yang sungguh-sungguh melalui penyediaan pembiayaan yang memadai dengan pemberian beasiswa kepada para guru yang potensial untuk meningkatkan pendidikan formalnya ke jenjang S 2 ataupun S3. Melalui seleksi yang ketat dan bebas KKN dari Kemendiknas dapat menjaring para guru yang berkualitas untuk didik dan dilatih menjadi mentor atau menjadi motor penggerak bagi sesama teman pengajar melalui pertemuan MGMP baik di tingkat Provinsi, Kabupaten, Kecamatan maupun tingkat sekolah yang sesuai tugas dan keahliannya studinya.
Karena selama ini Kemendiknas hanya lebih memberikan kesempatan dan kemudahan serta fasilitas bagi para pegawai administrasinya di tingkat pusat dan dosen perguruan tinggi untuk meningkatkan pendidikan formalnya ke pasca sarjana di berbagai perguruan tinggi ternama baik didalam negeri maupun luar negeri dengan bantuan beasiswa penuh, sementara untuk tenaga guru pendidik di tingkat guru sekolah dasar sampai menengah sangat minim, atau apakah dianggap guru sekolah dasar atau sekolah menengah hanya cukup Program Strata 1 saja. Padahal di negara maju konon katanya Doktor dan Professor juga mengajar di sekolah dasar dan menengah.
Sebaiknya Kemendiknas segera memberikan kesempatan yang luas kepada para gurunya untuk melanjutkan pendidikan formalnya ke program Strata 2 dan Strata 3 melalui peningkatan kualitasnya diperguruan tinggi negeri dan luar negeri. Kemudian setelah tammat guru yang terdidik ini disebarkan di berbagai wilayah yang disesuai dengan ratio kebutuhan daerah dan jumlah gurunya, jadi tidak tertumpuk di Pulau Jawa saja. Guru yang telah dididik ini tentunya dapat menjadi pakar atau ahli dibidangnya di daerah dimana dia bertugas. Ia wajib getok tular keilmuannya kepada sesama tenaga pendidik didaerahnya secara berkala pada hari-hari pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Bila hal ini dapat diimplementasikan, maka para tenaga guru yang sudah dididik dan terlatih di perguruan tinggi ini akan menjadi suatu kekuatan besar, yang sangat bermanfaat untuk kepentingan bangsa Indonesia bukan hanya untuk kepentingan masa sekarang tetapi juga pada masa yang akan datang untuk peningkatan mutu siswa yang tersebar di pelosok tanah air.
Guru yang berkualitas dan profesional, serta memiliki dedikasi tinggi saat melaksanakan tugasnya tentu sangat dibutuhkan oleh negeri ini, Diharapkan mereka selalu bersedia mengaplikasikan ilmunya guna meningkatkan kompetensi para siswanya dengan motivasi tinggi karena akan menjadi pahlawan peningkatan mutu pendidikan.
Para guru honor di seluruh wilayah Indonesia yang yang telah bersedia membaktikan dirinya, walaupun terkadang gaji yang diterimanya sangat minim, bahkan lebih rendah dari gaji pembantu rumah tangga mereka ini juga pantas menjadi pahlawan peningkatan mutu bangsa. Para guru yang selalu bersedia dengan senang hati meningkatkan kompetensi para siswanya dengan optimal walaupun gajinya terlambat. Para guru yang benar-benar berbakti untuk negeri dengan baik adalah pantas menjadi pahlawan peningkatan mutu bangsa, walau terkadang suka dipelesetkan dengan julukan: ” pahlawan tanpa tanda jasa,” biarlah yang penting bakti kita akan dikenang oleh anak bangsa ketika mereka telah menjadi pelaku ekonomi dan pejabat di negeri ini sekaligus menentukan penilaian IPM yang ada sekarang ini.

Rabu, 22 Oktober 2008

MATERI PRA AKSARA

Bab II Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia 23
KEHIDUPAN PADA MASA
PRA AKSARA DI INDONESIA
BAB
II
Setelah mempelajari Bab ini, kalian diharapkan memiliki kemampuan
untuk memahami ciri-ciri kehidupan masyarakat pra aksaran di
Indonesia dan peninggalan-peninggalannya.
PETA KONSEP
KEHIDUPAN MASYARAKAT
PRA AKSARA
ASAL USUL
YUNAN
CIRI-CIRI
NOMADEN
SEMI
NOMADEN
MENETAP
PERALATAN
ZAMAN
BATU
ZAMAN
LOGAM
KEBUDAYAAN
FISIK
ROHANI
Masyarakat Indonesia berasal dari Yunan, yaitu suatu daerah
yang terletak di Myanmar (Birma). Pada waktu berpindah dari
Yunan ke Indonesia, mereka belum mengenal tulisan. Oleh karena
itu, mereka disebut masyarakat pra aksara. Tujuan perpindahan
mereka adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka
hidup secara nomaden, yaitu berpindah-pindah dari satu tempat
ke tempat lain. Tempat-tempat yang menjadi tujuan mereka adalah
tempat yang menghasilkan bahan makanan. Salah satu tempat yang
menjadi tujuan mereka adalah Indonesia. Untuk mencapai Indonesia
tidak terlalu sulit karena pada waktu mereka berpindah, wilayah
Indonesia masih menyatu dengan daratan Asia. Hal ini dibuktikan
Kata Kunci
Masyarakat, nomaden, semi nomaden, menetap, berburu, bercocok tanam,
paleolitikum, mesolitikum, neolitikum, megalitikum, fosil, tembaga,
perunggu, besi, kapak, goa, animisme, dan dinamisme.
Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII
24
dengan persamaan fauna (binatang) yang hidup di Indonesia dan
daratan Asia.
Ketika sampai di Indonesia, mereka masih hidup secara nomaden.
Lama kelamaan, kehidupan mereka mengalami kemajuan. Mereka
mulai mengenal sistem bercocok tanam. Untuk keperluan bercocok
tanam, mereka mulai menetap sementara. Setelah selesai bercocok
tanam, mereka berpindah ke tempat lain untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Di tempat yang baru, mereka akan bercocok tanam dan
hidup menetap sementara. Akhirnya, mereka akan kembali ke
tempat semula apabila musim panen telah tiba. Kehidupan ini
dilakukan secara terus menerus. Oleh karena itu, mereka disebut
sebagai masyarakat semi nomaden.
Kehidupan mereka terus berkembang dan akhirnya mereka
mulai hidup menetap di suatu tempat. Untuk mempertahankan
hidupnya, mereka tidak semata-mata bergantung kepada apa yang
disediakan alam. Mereka mulai mengenal sistem pertanian dengan
menanam berbagai jenis tanaman dan mulai memelihara ternak.
Di samping itu, mereka mulai hidup secara bersama sehingga
terbentuklah masyarakat pra sejarah. Mereka saling membantu
dalam mempertahankan hidup dan kehidupannya. Misalnya, untuk
menangkap binatang buruan, mereka lakukan secara bersamasama.
Untuk memudahkan cara memenuhi kebutuhan, masyarakat pra
aksara mulai mengenal dan membuat peralatan. Alat-alat itu terbuat
dari batu, tulang, kayu, atau logam. Alat-alat tersebut ada yang
sangat kasar, agak halus, dan sangat halus bentuknya. Di samping
itu, ada yang bulat, pipih, runcing, kecil, dan besar. Bentuk dan jenis
alat-alat itu sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan hidupnya.
Sisa-sisa peralatan yang terbuat dari tulang dan kayu, umumnya
telah membatu (menjadi batu) atau sering disebut fosil. Sisa-sisa
peninggalan ini disebut sebagai hasil kebudayaan fisik (materi).
Masyarakat pra aksara sudah mengenal kepercayaan animisme
dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda
memiliki roh atau jiwa. Sedangkan dinamisme adalah kepercayaan
bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib. Aliran kepercayaan ini
disebut sebagai kebudayaan rohani
A. ASAL USUL NENEK MOYANG
Kehidupan awal masyarakat pra aksara Indonesia tidak dapat
dipisahkan dari perkembangan geografis wilayah Indonesia. Sebelum
zaman es atau glasial, wilayah Indonesia bagian barat menjadi satu
dengan daratan Asia dan wilayah Indonesia bagian timur menjadi
satu dengan daratan Australia. Pendapat ini didasarkan pada
Bab II Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia 25
persamaan kehidupan flora dan fauna di Asia dan Australia dengan
wilayah Indonesia. Binatang yang hidup di wilayah Indonesia bagian
barat memiliki kesamaan dengan binatang yang hidup di daratan
Asia. Misalnya, gajah, harimau, banteng, burung, dan sebagainya.
Sedangkan binatang yang hidup di wilayah bagian timur memiliki
kesamaan dengan binatang yang hidup di daratan Australia, seperti
burung Cendrawasih.
Mencairnya es di kutub utara menyebabkan air laut mengalami
kenaikan. Peristiwa ini mengakibatkan wilayah Indonesia menjadi
terpisah dengan daratan Asia maupun Australia. Bekas daratan
yang menghubungkan Indonesia bagian barat dengan Asia disebut
Paparan Sunda. Sedangkan bekas daratan yang menghubungkan
Indonesia bagian timur dengan Australia disebut Paparan Sahul.
Ternyata, perubahan-perubahan itu sangat besar pengaruhnya
terhadap perkembangan kehidupan masyarakat pra aksara
Indonesia.
Menurut para ahli, nenek moyang bangsa Indonesia berasal
dari Yunan. Daerah Yunan terletak di daratan Asia Tenggara.
Tepatnya, di wilayah Myanmar sekarang. Seorang ahli sejarah yang
mengemukakan pendapat ini adalah Moh. Ali. Pendapat Moh. Ali ini
didasarkan pada argumen bahwa nenek moyang bangsa Indonesia
berasal dari hulu-hulu sungai besar di Asia dan kedatangannya ke
Indonesia dilakukan secara bergelombang. Gelombang pertama
berlangsung dari tahun 3000 SM – 1500 SM dengan menggunakan
perahu bercadik satu. Sedangkan gelombang kedua berlangsung
antara tahun 1500 SM – 500 SM dengan menggunakan perahu
bercadik dua. Tampaknya, pendapat Moh. Ali ini sangat dipengaruhi
oleh pendapat Mens bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal
dari daerah Mongol yang terdesak ke selatan oleh bangsa-bangsa
yang lebih kuat.
Sementara, para ahli yang lain memiliki pendapat yang beragam
dengan berbagai argumen atau alasannya, seperti:
1. Prof. Dr. H. Kern dengan teori imigrasi menyatakan bahwa
nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Campa, Kochin
Cina, Kamboja. Pendapat ini didasarkan pada kesamaan bahasa
yang dipakai di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanisia, dan
Mikronesia. Menurut hasil penelitiannya, bahasa-bahasa yang
digunakan di daerah-daerah tersebut berasal dari satu akar
bahasa yang sama, yaitu bahasa Austronesia. Hal ini dibuktikan
dengan adanya nama dan bahasa yang dipakai daerah-daerah
tersebut. Objek penelitian Kern adalah kesamaan bahasa, namanama
binatang dan alat-alat perang.
2. Van Heine Geldern berpendapat bahwa nenek moyang bangsa
Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII
26
Indonesia berasal dari daerah Asia. Pendapat ini didukung oleh
artefak-artefak atau peninggalan kebudayaan yang ditemukan
di Indonesia memiliki banyak kesamaan dengan peninggalanpeninggalan
kebudayaan yang ditemukan di daerah Asia.
3. Prof. Mohammad Yamin berpendapat bahwa nenek moyang
bangsa Indonesia berasal dari daerah Indonesia sendiri.
Pendapat ini didasarkan pada penemuan fosil-fosil dan artefakartefak
manusia tertua di Indonesia dalam jumlah yang banyak.
Di samping itu, Mohammad Yamin berpegang pada prinsip
Blood Und Breden Unchro, yang berarti darah dan tanah bangsa
Indonesia berasal dari Indonesia sendiri.
Manusia purba mungkin telah tinggal
di Indonesia, sebelum terjadi gelombang
perpindahan bangsa-bangsa dari Yunan dan
Campa ke wilayah Indonesia. Persoalannya,
apakah nenek moyang bangsa Indonesia adalah
manusia purba?
4. Hogen berpendapat bangsa yang mendiami daerah pesisir
Melayu berasal dari Sumatera. Banga ini bercampur dengan
bangsa Mongol dan kemudian disebut bangsa Proto Melayu dan
Deutro Melayu. Bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) menyebar
ke wilayah Indonesia pada tahun 3000 SM – 1500 SM. Sedangkan
bangsa Deutro Melayu (Melayu Muda) menyebar ke wilayah
Indonesia pada tahun 1500 SM – 500 SM.
Berdasarkan penyelidikan terhadap penggunaan bahasa yang
dipakai di berbagai kepulauan, Kern berkesimpulan bahwa nenek
moyang bangsa Indonesia berasal dari satu daerah dan menggunakan
bahasa yang sama, yaitu bahasa Campa. Namun, sebelum nenek
moyang bangsa Indonesia tiba di daerah kepulauan Indonesai,
daerah ini telah ditempati oleh bangsa berkulit hitam dan berambut
keriting. Bangsa-bangsa ini hingga sekarang menempati daerahdaerah
Indonesia bagian timur dan daerah-daerah Australia.
Sementara, sekitar tahun 1500 SM, nenek moyang bangsa
Indonesia yang berada di Campa terdesak oleh bangsa lain dari
Asia Tengah yang lebih kuat. Mereka berpindah ke Kamboja dan
kemudian melanjutkan perjalanannya ke Semenanjung Malaka dan
daerah Filipina. Dari Semenanjung Malaka, mereka melanjutkan
perjalanannya ke daerah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Sedangkan
mereka yang berada di Filipina melanjutkan perjalanannya ke daerah
Minahasa dan daerah-daerah sekitarnya.
Bertitik tolak dari pendapat-pendapat di atas, terdapat hal-hal
yang menarik tentang asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia.
Pertama, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan
Gambar 2.1
Kerangka Manusia
Pithecanthropus
Pithecanthropus
adalah manusia
kera yang berdiri
tegak dari Trinil.
Fosil ini ditemukan
oleh Eugene
Dobuis pada tahun
1890.
Bab II Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia 27
Gambar 2.2
Peta rute
perpindahan
nenek
moyang
bangsa
Indonesia
dan Campa. Argumen ini merujuk pada pendapat Moh. Ali dan
Kern bahwa sekitar tahun 3000 SM – 1500 SM terjadi gelombang
perpindahan bangsa-bangsa di Yunan dan Campa sebagai akibat
desakan bangsa lain dari Asia Tengah yang lebih kuat. Argumen ini
diperkuat dengan adanya persamaan bahasa, nama binatang, dan
nama peralatan yang dipakai di kepulauan Indonesia, Polinesia,
Melanesia, dan Mikronesia.
Kedua, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia
sendiri. Argumen ini merujuk pada pendapat Mohammad Yamin
yang didukung dengan penemuan fosil-fosil dan artefak-artefak
manusia tertua di wilayah Indonesia dalam jumlah yang banyak.
Sementara, fosil dan artefak manusia tertua jarang ditemukan di
daratan Asia. Sinanthropus Pekinensis yang ditemukan di Cina
dan diperkirakan sezaman dengan Pithecantropus Erectus dari
Indonesia, merupakan satu-satunya penemuan fosil manusia tertua
di daratan Asia.
Ketiga, masyarakat awal yang menempati wilayah Indonesia
termasuk rumpun bangsa Melayu. Oleh karena itu, bangsa Melayu
ditempatkan sebagai nenek moyang bangsa Indonesia. Argumen
ini merujuk pada pendapat Hogen. Bangsa Melayu yang menjadi
nenek moyang bangsa Indonesia dapat dibedakan menjadi 2 (dua),
yaitu:
1. Bangsa Proto Melayu
Bangsa ini memasuki wilayah Indonesia melalui 2 (dua) jalan,
yaitu:
a. Jalan barat dari Semenanjung Malaka ke Sumatera dan
selanjutnya menyebar ke beberapa daerah di Indonesia.
b. Jalan timur dari Semenanjung Malaka ke Filipina dan
Minahasa, serta selanjutnya menyebar ke beberapa daerah
di Indonesia.
Bangsa Proto Melayu
memiliki kebudayaan
yang setingkat lebih tinggi
dari kebudayaan Homo
Sapiens di Indonesia.
Kebuadayaan mereka
adalah kebudayaan batu
muda (neolitikum). Hasilhasil
kebudayaan mereka
masih terbuat dari batu,
tetapi telah dikerjakan
dengan baik sekali (halus).
Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII
28
Kapak persegi merupakan hasil kebudayaan bangsa Proto
Melayu yang masuk ke Indonesia melalui jalan barat dan kapak
lonjong melalui jalan timur. Keturunan bangsa Proto Melayu
yang masih hidup hingga sekarang, di antaranya adalah suku
bangsa Dayak, Toraja, Batak, Papua.
2. Bangsa Deutro Melayu
Sejak tahun 500 SM, bangsa Deutro Melayu memasuki
wilayah Indonesia secara bergelombang melalui jalan barat.
Kebudayaan bangsa Deitro Melayu lebih tinggi dari kebudayaan
bangsa Proto Melayu. Hasil kebudayaan mereka terbuat dari
logam (perunggu dan besi). Kebuadayaan mereka sering disebut
kebudayaan Don Song, yaitu suatu nama kebudayaan di daerah
Tonkin yang memiliki kesamaan dengan kebudayaan bangsa
Deutro Melayu. Daerah Tonkin diperkirakan merupakan tempat
asal bangsa Deutro Melayu, sebelum menyebar ke wilayah
Indonesia. Hasil-hasil kebudayaan perunggu yang penting di
Indonesia adalah kapak corong atau kapak sepatu, nekara, dan
bejana perunggu. Keturunan bangsa Deutro Melayu yang masih
hidup hingga sekarang, di antaranya suku bangsa Melayu, Batak,
Minang, Jawa, Bugis.
B. POLA KEHIDUPAN MASYARAKAT PRA
AKSARA
Masyarakat pra aksara adalah gambaran tentang kehidupan
manusia-manusia pada masa lampau, di mana mereka belum
mengenal tulisan sebagai cirinya. Kehidupan masyarakat pra
aksara dapat dibagi dalam beberapa tahap, yaitu: (1) kehidupan
nomaden, (2) kehidupan semi nomaden, dan (3) kehidupan menetap.
Meskipun demikian, pola kehidupan masyarakat pra aksara tidak
dapat dijadikan dasar pembagian zaman. Oleh karena itu, apabila
dikaitkan dengan pembagian zaman, maka masyarakat pra aksara
hidup pada zaman batu dan zaman logam.
Secara garis besar, pembagian zaman pra aksara dapat dibedakan
sebagai berikut:
T u g a s 2 . 1
Diskusikanlah dengan teman-temanmu mengenai asal-asul nenek moyang
bangsa Indonesia!
Bab II Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia 29
Pembagian zaman praaksara di atas, dapat dijadikan dasar
dalam menentukan asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia.
Dengan demikian, kalian dapat belajar berpikir kritis. Misalnya,
untuk mendukung pendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia
adalah bangsa Melayu, kalian harus memiliki argumen yang kuat,
logis, dan objektif.
Terlepas dari mana asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia
dan kapan mereka mulai tinggal di wilayah Indonesia, kita harus
percaya bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah ribuan tahun
sebelum masehi telah hidup di wilayah Indonesia. Kehidupan
mereka mengalami perkembangan yang teratur seperti bangsabangsa
di belahan dunia lain. Tahapan perkembangan kehidupan
masyarakat pra aksara di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Pola Kehidupan Nomaden
Nomaden artinya berpindah-pindah dari satu tempat ke
tempat yang lain. Kehidupan masyarakat pra aksara sangat
bergantung kepada alam. Bahkan, kehidupan mereka tak
Tabel 2.1
Pembagian Zaman Pra Aksara
Menurut H.R. Van Heekeren
No Zaman Waktu Manusia/Kebudayaan
1. Paleolitikum
-Bawah
-Tengah
-Atas
450 000 – 350 000
80.000 – 35.000
3.500 – 1.500
• Pitecanthropus Mojokertensis
• Meganthropus Paleojavanicus
• Pitecanthropus Erectus/
Homo Erectus
• Homo Wajakensis
• Homo Soloensis
Hasil kebudayaan dari batu yang
masih kasar
2. Mesolitikum 8.000 – 4.500
6.500 – 2.000
Austronesia, Melanesia
Pabble, Bascon Hoabins
Wedda, Negrito
Blade, Toale
3. Neolitikum 4.500 – 2.500 Proto Melayu
Kapak persegi, Kapak lonjong
4. Megalitikum - Austronesia, Melanesia, Proto
Melayu, Deutro Melayu.
Menhir, Bangunan Berundak, Tugu
5. Logam
-Perunggu
-Tembaga
-Besi
2.500 – 2.000
-
-
Deutro Melayu
Kapak corong, Nekara, dan Bejana
perunggu
Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII
30
ubahnya seperti kelompok hewan karena bergantung pada
apa yang disediakan alam. Apa yang mereka makan adalah
bahan makanan apa yang disediakan alam. Buah-buahan, umbiumbian,
atau dedaunan yang mereka makan tinggal memetik
dari pepohonan atau menggali dari tanah. Mereka tidak pernah
menanam atau mengolah pertanian.
Apabila mereka ingin makan ikan, maka mereka tinggal
menangkap ikan di sungai, waduk, atau tempat-tempat lain, di
mana ikan dapat hidup. Apabila mereka ingin makan daging,
maka mereka tinggal berburu untuk menangkap binatang
buruannya. Adapun cara menangkap ikan atau binatang
buruannya, tentu berbeda dengan yang kita lakukan sekarang.
Mereka tidak pernah memelihara ikan atau binatang ternak
lainnya.
Berdasarkan pola kehidupan nomaden tersebut, maka
masa kehidupan masyarakat pra aksara sering disebut sebagai
‘masa mengumpulkan bahan makanan dan berburu’. Jika bahan
makanan yang akan dikumpulkan telah habis, mereka kemudian
berpindah ke tempat lain yang banyak menyediakan bahan
makanan. Di samping itu, tujuan perpindahan mereka adalah
untuk menangkap binatang buruannya. Kehidupan semacam itu
berlangsung dalam waktu yang lama dan berlangsung secara
terus menerus. Oleh karena itu, mereka tidak pernah memikirkan
rumah sebagai tempat tinggal yang tetap.
Mereka tinggal di alam terbuka seperti hutan, di bawah
pohon, di tepi sungai, di gunung, di gua, dan di lembah-lembah.
Pada waktu itu, lingkungan alam belum stabil dan masih liar atau
ganas. Oleh karena itu, setiap orang harus berhati-hati terhadap
setiap ancaman yang dapat muncul secara tiba-tiba. Ancaman
yang paling membahayakan adalah binatang buas. merupakan
musuh utama manusia dalam hidup dan kehidupannya.
Berkaitan dengan kehidupan yang kurang aman, maka untuk
menuju ke suatu tempat, mereka biasanya mereka mem memilih
jalan dengan menelusuri sungai. Perjalanan melalui sungai
dipandang lebih mudah dan aman dari pada melalui daratan
(hutan) yang sangat berbahaya. Sesuai dengan kebutuhan dan
tantangan yang dihadapi, akhirnya timbul pemikiran untuk
membuat rakit-rakit sebagai alat transportasi. Bahkan dalam
perkembangannya, masyarakat pra aksara mampu membuat
perahu sebagai sarana transportasi melalui sungai.
Pada masa nomaden, masyarakat pra aksara telah mengenal
kehidupan berkelompok. Jumlah anggota dari setiap kelompok
sekitar 10-15 orang. Bahkan, untuk mempermudah hidup
Bab II Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia 31
dan kehidupannya, mereka telah mampu membuat alat-alat
perlengkapan dari batu dan kayu, meskipun bentuknya masih
sangat kasar dan sederhana. Ciri-ciri kehidupan masyarakat
nomaden adalah sebagai berikut:
• selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain,
• sangat bergantung pada alam,
• belum mengolah bahan makanan,
• hidup dari hasil mengumpulkan bahan makanan dan
berburu,
• belum memiliki tempat tinggal yang tetap,
• peralatan hidup masih sangat sederhana dan terbuat dari
batu atau kayu.
Lama kelamaan, masyarakat pra aksara menyadari bahwa
makanan yang disediakan oleh alam sangat terbatas dan
akhirnya akan habis. Oleh karena itu, cara hidup yang sangat
bergantung pada alam harus diperbaiki. Caranya adalah dengan
menanami lahan-lahan yang akan ditinggalkan agar dapat
menyediakan bahan makanan yang lebih banyak pada waktu
yang akan datang. Di samping itu, para wanita dan anak kecil
tidak harus selalu ikut berpindah untuk mengumpulkan bahan
makanan atau berburu binatang.
2. Pola Kehidupan Semi Nomaden
Terbatasnya, kemampuan alam untuk memenuhi kebutuhan
hidup masyarakat menuntut setiap manusia untuk merubah
pola kehidupannya. Oleh karena itu, masyarakat pra aksara
mulai merubah pola hidup secara nomaden menjadi semi
nomaden. Kehidupan semi nomaden adalah pola kehidupan
yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain,
tetapi sudah disertai dengan kehidupan menetap sementara.
Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa mereka sudah mulai
mengenal cara-cara mengolah bahan makanan.
Pola kehidupan semi nomaden ditandai dengan ciri-ciri
sebagai berikut:
• mereka masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat
lain;
• mereka masih bergantung pada alam;
• mereka mulai mengenal cara-cara mengolah bahan
makanan;
• mereka telah memiliki tempat tinggal sementara;
Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII
32
• di samping mengumpulkan bahan makanan dan berburu,
mereka mulai menanam berbagai jenis tanaman;
• sebelum meninggalkan suatu tempat untuk berpindah ke
tempat lain, mereka terlebih dahulu menanam berbagai jenis
tanaman dan mereka akan kembali ke tempat itu, ketika
musin panen tiba;
• peralatan hidup mereka sudah lebih baik dibandingkan
dengan peralatan hidup masyarakat nomaden;
• di samping terbuat dari batu dan kayu, peralatan itu juga
terbuat dari tulang sehingga lebih tajam.
Kehidupan sosial, masyarakat semi nomaden setingkat
lebih baik dari pada masyarakat nomaden. Jumlah anggota
kelompok semakin bertambah besar dan tidak hanya terbatas
pada keluarga tertentu. Kenyataan ini menunjukkan bahwa
rasa kebersamaan di antara mereka mulai dikembangkan.
Rasa kebersamaan ini sangat penting dalam mengembangkan
kehidupan yang harmonis, tenang, aman, tentram, dan damai.
Nilai-nilai kehidupan, seperti gotong royong, saling membantu,
saling mencintai sesama manusia, saling menghargai dan
mengjormati telah berkembang pada masyarakat pra aksara.
Pada zaman ini, masyarakat diperkirakan telah memelihara
anjing. Pada waktu itu, anjing merupakan binatang yang dapat
membantu manusia dalam berburu binatang. Di Sulawesi
Selatan, di dalam sebuah goa ditemukan sisa-sisa gigi anjing
oleh Sarasin bersaudara.
3. Pola Kehidupan Menetap
Kehidupan masyarakat pra aksara terus berkembang sesuai
dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakatnya. Ternyata, pola
kehidupan semi nomaden tidak menguntungkan karena setiap
manusia masih harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang
lain. Di samping itu, setiap orang harus membangun tempat
tinggal, meskipun hanya untuk sementara waktu. Dengan
demikian, pola kehidupan semi nomaden dapat dikatakan
kurang efektif dan efisien. Oleh karena itu, muncul gagasan
untuk mengembangkan pola kehidupan yang menetap. Itulah,
konsep dasar yang mendasari perkembangan kehidupan
masyarakat pra aksara.
Bab II Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia 33
Pola kehidupan menetap memiliki beberapa keuntungan
atau kelebihan, di antaranya:
• setiap keluarga dapat membangunan tempat tinggal yang
lebih baik untuk waktu yang lebih lama;
• setiap orang dapat menghemat tenaga karena tidak harus
membawa peralatan hidup dari satu tempat ke tempat
lain;
• para wanita dan anak-anak dapat tinggal lebih lama di rumah
dan tidak akan merepotkan;
• wanita dan anak-anak sangat merepotkan, apabila mereka
harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain;
• mereka dapat menyimpan sisa-sisa makanan dengan lebih
baik dan aman;
• mereka dapat memelihara ternak sehingga mempermudah
pemenuhan kebutuhan, terutama apabila cuaca sedang tidak
baik;
• mereka memiliki waktu yang lebih banyak untuk berkumpul
dengan keluarga, sekaligus menghasilkan kebudayaan yang
bermanfaat bagi hidup dan kehidupannya;
• mereka mulai mengenal sistem astronomi untuk kepentingan
bercocok tanam;
• mereka mulai mengenal sistem kepercayaan.
Dilihat dari aspek geografis, masyarakat pra aksara
cenderung untuk hidup di daerah lembah atau sekitar sungai
dari pada di daerah pegunungan. Kecenderungan itu didasarkan
pada beberapa kenyataan, seperti:
• memiliki struktur tanah yang lebih subur dan sangat
menguntungkan bagi kepentingan bercocok tanam;
• memiliki sumber air yang baik sebagai salah satu kebutuhan
hidup manusia;
• lebih mudah dijangkau dan memiliki akses ke daerah lain
yang lebih mudah;
T u g a s 2 . 2
Kerjakan secara kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa!
■ Mengapa masyarakat pra aksara selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain?
■ Mengapa masyarakat pra aksara cenderung hidup di sekitar sungai dan daerah lembah?
Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII
34
C. KEBUDAYAAN MASYARAKAT PRA AKSARA
Zaman pra aksara dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: (1) zaman batu,
dan (2) zaman logam. Pembagian itu didasarkan pada alat-alat atau
hasil kebudayaan yang mereka ciptakan untuk memenuhi kebutuhan
hidup dan kehidupannya. Secara skematis, pembagian zaman pra
aksara dapat digambarkan sebagai berikut:
Disebut zaman batu karena hasil-hasil kebudayaan pada masa
itu sebagian besar terbuat dari batu, mulai dari yang sedernaha dan
kasar sampai pada yang baik dan halus. Perbedaan itu merupakan
gambaran usia peralatan tersebut. Semakin sederhana dan kasar,
maka peralatan itu dikatakan berasal dari zaman yang lebih tua, dan
sebaliknya. Zaman batu sendiri dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu: (1)
zaman batu tua (paleolitikum), (2) zaman batu tengah (mesolitikum),
dan (3) zaman batu muda (neolitikum). Di samping ketiga zaman
batu itu, juga dikenal zaman batu besar (megalitikum).
Beberapa hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum, di
antaranya adalah kapak genggam, kapak perimbas, monofacial,
alat-alat serpih, chopper, dan beberapa jenis kapak yang telah
dikerjakan kedua sisinya. Alat-alat ini tidak dapat digolongkan ke
dalam kebudayaan batu teras maupun golongan fl ake. Alat-alat ini
dikerjakan secara sederhana dan masih sangat kasar. Bahkan, tidak
jarang yang hanya berupa pecahan batu. Beberapa contoh hasil
kebudayaan dari zaman paleolitikum dapat dilihat pada gambar
di bawah ini.
Chopper merupakan salah satu jenis kapak genggam yang
berfungsi sebagai alat penetak. Oleh karena itu, chopper sering
JENIS ZAMAN
BATU
LOGAM
PALEOLITIKUM
MESOLITIKUM
NEOLITIKUM
MEGALITIKUM
TEMBAGA
PERUNGGU
BESI
Skema 2.1
Pembagian Zaman Menurut Hasil Kebudayaan
Bab II Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia 35
disebut sebagai kapak
penetak. Mungkin kalian
masih sulit membayangkan
bagaimana cara menggunakan
chopper. Misalnya, kalian akan
memotong kayu yang basah
atau tali yang besar, sementara
kalian tidak memiliki alat
pemotong, maka kalian dapat
mengambil pecahan batu yang
tajam. Kayu atau tali yang akan
dipotong diletakan pada benda
yang keras dan bagian yang akan dipotong dipukul dengan batu,
maka kayu atau tali akan putus. Itulah, cara menggunakan kapak
penetak atau chopper.
Contoh hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum adalah
flake atau alat-alat serpih. Hasil kebudayaan ini banyak ditemukan
di wilayah Indonesia, terutama di Sangiran (Jawa Tengah) dan
Cebbenge (Sulawesi Selatan). Flake memiliki fungsi yang besar,
terutama untuk mengelupas kulit umbi-umbian dan kulit hewan.
Perhatikan salah satu contoh flake yang ditemukan di Sangiran dan
Cebbenge.
Pada Zaman Paleolitikum, di samping ditemukan hasilhasil
kebudayaan, juga ditemukan beberapa peninggalan, seperti
tengkorak (2 buah), fragmen kecil dari rahang bawah kanan, dan
tulang paha (6 buah) yang diperkirakan dari jenis manusia. Selama
masa paleolitikum tengah, jenis manusia itu tidak banyak mengalami
perubahan secara fisik. Pithecanthropus Erectus adalah nenek
moyang dari Manusia Solo (Homo Soloensis). Persoalan yang agak
aneh karena Pithecanthropus memiliki dahi yang sangat sempit,
busur alis mata yang tebal, otak yang kecil, rahang yang besar,
dan geraham yang kokoh. Di samping ini adalah salah tengkorak
Gambar 2.3
Chopper dari
Pacitan
Gambar 2.4 Flake dari Sangiran Gambar 2.5. Flakedari Cabbenge
Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII
36
Homo Soloensis yang ditemukan oleh Ter Haar,
Oppenoorth, dan von Konigwald di Ngandong
pada tahun 1936-1941.
Pada Zaman Mesolitikum terdapat tiga
macam kebudayaan yang berbeda satu sama
lain, yaitu kebuadayaan: (1) Bascon-Hoabin,
(2) Toale, dan (3) Sampung. Ketiga kebudayaan
itu diperkirakan datang di Indonesia hampir
bersamaan waktunya.
Kebudayaan Bascon-Hoabin ditemukan dalam goa-goa dan
bukit-bukit kerang di Indo Cina, Siam, Malaka, dan Sumatera Timur.
Daerah-daerah itu merupakan wilayah yang saling berkaitan satu
sama lainnya. Kebudayaan ini umumnya berupa alat dari batu
kali yang bulat. Sering disebut sebagai ‘batu teras’ karena hanya
dikerjakan satu sisi, sedangkan sisi yang lain dibiarkan tetap licin.
Sumateralith adalah salah jenis peralatan manusia pra aksara
Indonesia yang berfungsi sebagai alat penetak, pemecah, pemotong,
pelempar, penggali, dan lain-lain. Alat ini ditemukan di Sumatera
dalam jumlah yang sangat banyak. Penemuan ini merupakan
fenomena yang menarik karena
berkaitan dengan kehidupan
masyarakat pada waktu itu.
Sekurang-kurangnya, penemuan
itu merupakan bukti bahwa
kehidupan masyarakat sudah
semakin maju dengan kebutuhan
yang semakin tinggi.
Hasil kebudayaan Toale
dan yang serumpun umumnya,
berupa kebudayaan ‘flake’
dan ‘blade’. Kebudayaan ini
mendapat pengaruh kuat dari
unsur ‘microlith’ sehingga menghasilkan alat-alat yang berukuran
kecil dan terbuat dari batu yang mirip dengan ‘batu api’ di Eropa.
Di samping itu, ditemukan alat-alat yang terbuat dari tulang dan
kerang. Alat-alat ini sebagian besar merupakan alat berburu atau
yang dipergunakan para nelayan.
Kebudayaan-kebudayaan yang mirip dengan kebudayaan Toale
ditemukan di Jawa (dataran tinggi Bandung, Tuban, dan Besuki);
di Sumatera (di sekeliling danau Kerinci dan goa-goa di Jambi); di
Flores, di Timor, dan di Sulawesi. Di bawah ini adalah salah satu
hasil kebuadayaan Toale dari Sulawesi Selatan yang memiliki ukuran
lebih kecil, tetapi tampak lebih tajam dibandingkan dengan kapak
Gambar 2.6
Tengkorak
Manusia
Homo
Soloensis
Gambar 2.7
Sumateralith
Bab II Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia 37
genggam, kapak perimbas, atau jenis
kapak lainnya.
Di samping alat-alat yang terbuat
dari batu, juga ditemukan alat-alat yang
terbuat dari tulang dan tanduk. Kedua
jenis alat ini termasuk dalam hasil
kebudayaan Toale.
Sementara, kebudayaan Sampung
merupakan kebudayaan tulang dan tanduk yang
ditemukan di desa Sampung, Ponorogo. Barang
yang ditemukan berupa jarum, pisau, dan sudip.
Pada lapisan yang lain telah ditemukan ‘mata
panah’ yang terbuat dari kapur membatu. Di
samping itu ditemukan juga beberapa kerangka
manusia dan tulang binatang buas yang dibor
(mungkin sebagai perhiasan atau jimat).
Tentang persebaran kebudayaan Toale tidak
diketahui secara. Namun, beberapa penelitian
telah membuktikan bahwa kebudayaan ini telah
berkembang di Sulawesi dan Flores.
Kira-kira 1000 tahun SM, telah datang bangsabangsa
baru yang memiliki kebudayaan lebih maju
dan tinggi derajatnya.
Mereka dikenal sebagai bangsa Probo Melayu
dan Deutro Melayu. Beberapa kebudayaan mereka
yang terpenting adalah sudah mengenal
pertanian, berburu, menangkap ikan,
memelihara ternak jinak (anjing, babi,
dan ayam).
Sistem pertanian dilakukan dengan
sederhana. Mer eka menanam tanaman
untuk beberapa kali dan sesudah itu
ditinggalkan. Mereka berpindah ke tempat
lain dan melaksanakan sistem pertanian yang
sama untuk kemudian berpindah lagi. Sistem
pertanian itu sangat tidak ekonomis, tetapi
lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Mereka
mulai hidup menetap, meski untuk waktu yang
tidak lama. Mereka telah membangun pondokpondok
yang berbentuk persegi empat siku-siku, didirikan di atas
tiang-tiang kayu, diding-dindingnya diberi hiasan dekoratif yang
indah.
Gambar 2.8.
Blade dan
Alat-alat
Microlith dari
Toale
Gambar 2.9.
Alat dari
Tulang dan
Tanduk
Gambar 2.10
Alat-alat dari
Tulang dan
Tanduk (Kebudayaan
Sampung).
Gambar 2.11
Mata Panah
dari Sulawesi
(kiri) dan
Mata Panah
dari Jawa
(kanan).
Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII
38
Sedangkan peralatan yang mereka pergunakan masih terbuat
dari batu, tulang, dan tanduk. Meskipun demikian, peralatan itu telah
dikerjakan lebih halus dan lebih tajam. Pola umum kebudayaan dari
masa neolitikum adalah pahat persegi panjang. Alat-alat perkakas
yang terindah dari kebudayaan ini ditemukan di Jawa Barat dan
Sumatera Selatan karena terbuat dari batu permata. Di samping itu,
ditemukan beberapa jenis kapak (persegi dan lonjong) dalam jumlah
yang banyak dan mata panah.
Berbagai jenis kapak yang ditemukan memiliki fungsi yang yang
hampir. Pada masa neolitikum, perkembangan kapak lonjong dan
beliung persegi sangat menonjol. Konon kedua jenis alat ini berasal
dari daratan Asia Tenggara yang masuk ke Indonesia melalui jalan
barat dan jalan timur. Persebaran kapak lonjong dan beliung persegi
dapat dilihat dalam peta di bawah ini.
Berdasarkan hasil penelitian, peralatan manusia purba banyak
ditemukan di berbagai wilayah, seperti daerah Jampang Kulon
(Sukabumi), Gombong (Jawa Tengah), Perigi dan Tambang Sawah
(Beng-kulu), Lahat dan Kalianda (Sumatera Selatan), Sembiran
Trunyan (Bali), Wangka dan Maumere (Flores), daerah Timor Timur,
Awang Bangkal (Kalimantan Timur), dan Cabbenge (Sulawesi
Gambar 2.12
Pahat Persegi Panjang
Gambar 2.13
Batu Pemukul Kulit
Kayu dari Kalimantan
Barat
Gambar 2.14
Kapak Bulat (kiri) dan Kapak Bertangga
(atas). Keduanya berasal
dari Minahasa, Sulawesi Utara.
Gambar 2.15
Peta Persebaran
Kapak Lonjong
dan Beliung
Persegi
Bab II Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia 39
Selatan). Beberapa peralatan yang penting dan banyak ditemukan,
di antaranya:
Kapak perimbas. Kapak perimbas tidak memiliki tangkai dan
digunakan dengan cara menggenggam. Kapak ini ditemukan hampir
di daerah yang disebutkan di atas dan diperkirakan berasal dari
lapisan yang sama dengan kehidupan Pithecanthropus. Kapak jenis
juga ditemukan di beberapa negara Asia, seperti Myanmar, Vietnam,
Thailand, Malaysia, Pilipina sehingga sering dikelompokkan dalam
kebudayaan Bascon-Hoabin.
Kapak penetak. Kapak penetak memiliki bentuk yang hampir
sama dengan kapak perimbas, tetapi lebih besar dan kasar. Kapak
ini digunakan untuk membelah kayu, pohon, dan bambu. Kapak
ini ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Kapak genggam. Kapak genggam memiliki bentuk yang hampir
sama dengan kapak perimbas, tetapi lebih kecil dan belum diasah.
Kapak ini juga ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Cara
menggunakan kapak ini adalah menggenggam bagian yang kecil.
Pahat genggam. Pahat genggam memiliki bentuk lebih kecil
dari kapak genggam. Menurut para ahli, pahat ini dipergunakan
untuk menggemburkan tanah. Alat ini digunakan untuk mencari
ubi-ubian yang dapat dimakan.
Alat serpih. Alat ini memiliki bentuk yang sederhana dan
ber-dasarkan bentuknya alat diduga sebagai pisau, gurdi, dan alat
penusuk. Alat ini banyak ditemukan di gua-gua dalam keadaan
yang utuh. Di samping itu, alat ini juga ditemukan Sangiran (Jawa
Tengah), Cabbenge (Sulawesi Selatan), Maumere (Flores), dan
Timor.
Alat-alat dari tulang. Tampaknya, tulang-tulang binatang hasil
buruan telah dimanfaatkan untuk membuat alat seperti pisau, belati,
mata tombak, mata panah, dan lain-lainnya. Alat-alat ini banyak
ditemukan di Ngandong dan Sampung (Ponorogo). Oleh karena itu,
pembuatan alat-alat ini sering disebut kebudayaan Sampung.
Blade, flake, dan microlith. Alat-alat ini banyak ditemukan
di Jawa (dataran tinggi Bandung, Tuban, dan Besuki); di Sumatera
(di sekeliling danau Kerinci dan gua-gua di Jambi); di Flores, di
Timor, dan di Sulawesi. Semua alat-alat itu sering disebut sebagai
kebudayaan Toale atau kebudayaan serumpun.
Di samping kebudayaan material, masyarakat pra aksara telah
memiliki atau menghasilkan kebudayaan rohani. Kebudayaan
rohani mulai muncul dalam kehidupan manusia, ketika mereka
mulai mengenal sistem kepercayaan. Sistem kepercayaan telah
muncul sejak masa kehidupan berburu dan mengumpulkan
Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII
40
makanan. Kuburan merupakan salah satu bukti bahwa masyarakat
telah memiliki anggapan tertentu dan memberikan penghormatan
kepada orang telah meninggal. Masyarakat percaya bahwa orang
yang meninggal, rohnya akan tetap hidup dan pergi ke suatu tempat
yang tinggi. Bahkan, jika orang itu berilmu atau berpengaruh dapat
memberikan perlindungan atau nasihat kepada mereka yang
mengalami kesulitan.
Sistem kepercayaan masyarakat terus berkembang.
Penghormatan kepada roh nenek moyang dapat dilihat pada
peninggalan-peninggalan berupa tugu batu seperti pada zaman
megalitikum. Peninggalan megalitikum lebih banyak ditemukan
pada tempat-tempat yang tinggi. Hal itu sesuai dengan kepercayaan
bahwa roh nenek moyang bertempat tinggal pada tempat yang lebih
tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa manusia
mulai menyadari kehidupannya berada di tengah-tengah alam
semesta. Manusia menyadari dan merasakan adanya kekuatan
yang maha dahsyat di luar dirinya sendiri. Kekuatan itulah yang
kemudian di-ketahui berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang
menciptakan, menghidupkan, memelihara, dan membinasakan alam
semesta. Dari kepercayaan itu, selanjutnya berkembang kepercayaan
yang bersifat animisme, dinamisme, dan monoisme. Animisme
adalah kepercayaan bahwa setiap benda memiliki roh atau jiwa.
Dinamisme merupakan kepercayaan bahwa setiap benda memiliki
kekuatan gaib. Sedangkan monoisme merupakan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Sebenarnya, zaman megalitikum bukan kelanjutan dari zaman
batu sebelumnya. Megalitikum muncul bersamaan dengan zaman
mesolotikum dan neolitikum. Pada zaman batu pada umumnya,
muncul kebudayaan batu besar (megalitikum)
seperti menhir, batu berundak, dolmen, dan
sebagainya.
Sementara, zaman logam dibedakan menjadi
3 (tiga) zaman, yaitu: (1) zaman Tembaga, (2)
zaman Perunggu, dan (3) zaman Besi. Namun,
zaman Tembaga tidak pernah berkembang
di Indonesia. Dengan
demikian, zaman logam
di Indonesia dimulai
dari zaman Perunggu.
Beberapa peninggalan
dari zaman logam, di
antaranya adalah nekara,
Gambar 2.17
Nekara
Perunggu
Gambar 2.16
Belati Dongson
dan Kapak
Perunggu dari
Flores
Bab II Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia 41
bejana, dan kapak yang terbuat dari perunggu, serta belati dari
besi.
D. JENIS-JENIS MANUSIA PURBA
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa pada zaman
atau kala Pleistosin hidup beberapa jenis manusia purba. Secara
ringkas kehidupan manusia purba disajikan dalam tabel di bawah
ini.
Homo Sapiens merupakan perkembangan dari jenis manusia
sebelumnya dan telah menunjukkan bentuk seperti manusia pada
masa sekarang. Fosil jenis manusia ini ditemukan di beberapa daerah
di Indonesia.
T u g a s 2 . 3
■ Sebutkan pembagian zaman berdasarkan peralatan yang dipergunakan
masyarakat pra aksara di Indonesia!
■ Sebutkan hasil-hasil kebudayaan material dan rohani masyarakat pra
aksara!
No Jenis Penemu Temuan Tempat Tahun
1. Pithecanthropua
Erectus
Eugene Dobuis Fosil
tengkorak
Trinil 1890
2. Meganthropus
Paleojavanicus
atau Homo
Soloensis
Ter Haar,
Oppenoorth, dan
von Koenigswald
Fosil rahang
bawah yang
sangat besar
Ngandong 1936-
1941
3. Homo
Mojokertensis
Tjokrohandojo
dan Duifjes
Fosil-fosil
manusia
purba
Perning,
Mojokerto
dan
Sangiran
-
4. Homo
Wajakensis
Van Reictshotten Fosil
tengkorak
Wajak 1889
5. Homo Sapiens -- -- -- --
6. --- Prof. Dr. Teuku
Jacob
13 buah fosil Sambung
Macan dan
Sragen
1973
T u g a s 2 . 4
■ Sebutkan jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia, penemu,
tempat dan tahuan penemuannya!
Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII
42
A. Pilihlah salah satu jawaban yang kamu anggap paling tepat
1. Ciri-ciri masyarakat pra aksara adalah, kecuali:
a. Tidak mengenal tulisan
b. Hidup secara nomaden
c. Tidak memiliki kebudayaan
d. Hidup bergantung pada alam
2. Fosil adalah:
a. Peninggalan sejarah yang telah membatu
b. Sisa tengkorak manusia purba
c. Sisa-sisa kebudayaan masyarakat pra aksara
d. Tanda-tanda kehidupan masyarakat pra aksara
R a n g k u m a n
Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, yaitu suatu
daerah yang terletak di negara Myanmar. Di samping itu, di Indonesia
banyak ditemukan fosil dan artefak dari manusia purba.
Pada awalnya, masyarakat pra aksara hidup secara nomaden. Dalam
perkembangannya, kehidupan mereka mengalami perubahan dari
nomaden menjadi semi nomaden. Akhirnya, mereka hidup secara menetap
di suatu tempat dengan tempat tinggal yang pasti.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat pra aksara
menggunakan beberapa jenis peralatan, baik yang terbuat dari batu
maupun logam. Oleh karena itu, masyarakat pra aksara telah menghasilkan
kebudayaan materi (fisik).
Di samping kebudayaan fisik, masyarakat pra aksara juga telah
menghasilkan kebudayaan rohani, yaitu aliran kepercayaan animisme
dan dinamisme.
Berdasarkan hasil-hasil kebudayaan, maka zaman pada masa pra
aksara dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu zaman batu dan zaman logam.
R e f l e k s i
■ Setelah mempelajari Bab ini, apakah kalian sudah memiliki kemampuan
untuk menjelaskan pola kehidupan masyarakat pra aksara dengan berbagai
ciri-cirinya? Apabila belum, apa yang harus kalian lakukan?
L a t i h a n
Bab II Kehidupan Pada Masa Pra Aksara Di Indonesia 43
3. Zaman batu dibagi menjadi beberapa zaman. Zaman batu yang tertua
disebut:
a. Megalithcum
b. Mesolithicum
c. Neolithicum
d. Palaelithicum
4. Pithecanthropus Erectus merupakan salah satu jenis manusia purba
yang ditemukan di:
a. Ngandong
b. Wajak
c. Trinil
d. Sangiran
5. Kebudayaan Bascon-Hoabin ditemukan di gua-gua di Asia Tenggara.
Peninggalan kebudayaan ini ditemukan di daerah Indonesia, yaitu:
a. Kalimantan Barat
b. Sumatera Timur
c. Sulawesi Selatan
d. Nusa Tenggara Timur
6. Dolmen dan menhir merupakan peninggalan kebudayaan dari zaman:
a. Batu tua
b. Batu tengah
c. Batu muda
d. Batu besar
7. Zaman logam di Indonesia dimulai pada:
a. Zaman Tembaga
b. Zaman Perunggu
c. Zaman Besi
d. Zaman Megalitikum
8. Belati Dongson ditemukan di daerah:
a. Makassar
b. Sumatera Selatan
c. Jawa Timur
d. Flores
Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VII
44
9. Masyarakat pra aksara hidup secara nomaden. Nomaden artinya:
a. Bergantung pada alam
b. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain
c. Mengumpulkan bahan makanan
d. Berburu binatang
10. Kebudayaan kapak lonjong masuk ke Indonesia melalui:
a. Semenanjung Malaka ke Sumatera
b. Semenanjung Malaka ke Kalimantan
c. Filipina ke Kalimantan
d. Filipinan ke Sulawesi
B. Isilah titik-titik dengan jawaban kamu
1. Kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia yang menyebutkan bahwa
setiap benda memiliki roh disebut .....
2. Suatu masa kehidupan masyarakat pra aksara dengan mengumpulkan
makanan di sebut masa ....
3. Menhir merupakan salah satu peninggalan sejarah dari zaman batu.
Menhir erat hubungannya dengan kegiatan ....
4. Jenis manusia purba yang ditemukan di Wajak adalah ....
5. Peralatan hidup yang dibuat oleh masyarakat pra aksara terbuat dari
batu, tulang, dan ....
C. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut secara singkat
1. Zaman pra aksara dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu zaman batu dan
zaman logam. Mengapa disebut zaman batu?
2. Apa yang dimaksud dengan hidup semi nomaden?
3. Jelaskan perkembangan sistem ekonomi masyarakat pra aksara!
4. Sebagian besar masyarakat pra aksara hidup di daerah lembah. Sebutkan
3 (tiga) alasan yang mendasarinya!
5. Munculnya kehidupan berkelompok bagi masyarakat pra aksara sangat
menguntungkan. Mengapa demikian?